welcome to the diary....

bismillah...

Kamis, 03 Mei 2018

Tentang Anak Durhaka

Mungkin saya adalah salah satu dari sekian banyak anak durhaka di dunia ini..

Ya, dunia ini hanya mengenal istilah "anak durhaka", tidak ada istilah "orang tua durhaka"

Saya, entah mengapa saya begitu membenci kedua orang tua saya, pun saya juga tidak cocok dengan mertua yg bisa dibilang orang tua saya juga..

Tidak ada istilah "orang tua durhaka", sekalipun Ayah saya seringkali dgn bangga menceritakan pada orang lain bahwa dulu beliau pernah menceburkan saya ke selokan/got karena saya nakal, pernah menyiram saya dgn susu panas karena saya sulit makan, pernah membuat saya malu dgn berjudi di depan rumah, dan baru2 ini Ayah mengatakan saya seperti "taek, bangsat, dll"

Tidak ada istilah "orang tua durhaka", sekalipun Ibu saya tak pernah absen memukuli saya setiap saya berbuat salah dulu, berkata kasar, "anjing, bangsat, goblok, taek, busuk, jancuk, monyet, pembawa sial, dll"

Setiap Ayah memukul ibu, pasti ibu memukul saya, sampai badan saya biru2 karena memar..
Coba sebutkan bagian tubuh saya yg mana yg tidak pernah disakiti Ibu, rambut saya sering dijambak, telinga saya dijewer, badan saya dicubit, kaki saya ditendang, tangan saya dipukuli..
Ibu bilang, "Ibu blm puas hajar kamu kalau badanmu belum hancur!"

Dulu saat berumur 5 tahun, saya iseng2 mencoba lipstik yg tergeletak di ruang tamu, entah milik siapa.. Ibu begitu marah ketika melihat bibir saya berwarna merah jambu.. Ibu bilang, "Ngapain kmu pakai lipstik? Kamu pikir kamu jadi cantik kalau pakai lipstik? Kamu itu udh dari sananya jelek, ya jelek aja, gak usah dandan.. Mau jadi apa kmu pakai dandan segala? Mau jadi perek? iya? Mau jadi pelacur?! Dasar anak pembawa sial!"

Saat liburan kuliah tiba, saya pernah meminta dibelikan Martabak Terang Bulan, kata Ibu, "Gak ada martabak! Emang kamu bakal mati kalo gak makan martabak?"

Saya pernah melihat Ayah merusak pintu kamar mandi yg terbuat dari kayu, lalu memukulkan kayu itu ke arah Ibu, menonjok mata Ibu, dan berkata kasar, menampar, dsb..

Begitu byk kekerasan terjadi, tapi ingat tidak ada satupun kamus yg menyebutkan frase "orang tua durhaka"..

Beberapa minggu yg lalu, Ibu dan Ayah meminta uang, saya katakan bahwa saya tidak punya uang karena sudah 2 bulan terakhir saya tidak bekerja.. Mereka bilang, "Hey, bangsat! Taek kamu, masa' gak punya uang! Adikmu itu butuh uang! Anjing!"

Saya jadi ingat kejadian 2 tahun lalu ketika ibu berkata, "Ibu menyesal sudah kuliahin kamu, percuma, gak ada hasilnya, ibu gak dapat apa2, bangsat! Mana sini kembalikan semua uang yg sudah ibu keluarkan utk sekolahmu dari SD sampai kuliah, kembalikan uang yg ibu keluarkan utk kmu ke Turki, kembalikan uang resepsi pernikahanmu! Kembalikan, anjing! Dasar kmu itu binatang, bajingan!"

Mereka selalu menyesal karena pernah menyekolahkan saya, tetapi saya tidak membalas budi mereka di masa tuanya, sebab saya terhalang anak2 dan suami yg membuat saya tdk bisa bekerja..

Mereka selalu merasa saya adalah produk investasi yg gagal, anak durhaka yg tdk bisa diharapkan.. Selalu berkata saya ini bego dan gak punya otak.. Dokter tapi cuma jadi ibu rumah tangga..

Begitulah, physical bullying and verbal bullying sudah kenyang saya dapatkan di masa kecil saya.. Tapi tetaplah ingat baik2, bahwa tidak ada "orang tua durhaka", kalaupun orang tua berbuat salah, maka anak yg harus meminta maaf.. Aneh sekali bukan?

Jakarta, 4 Mei 2017
Reqgi First Trasia

Jumat, 15 September 2017

Dear, Mama Mertua


Dear, Mama Mertua.. sebelumnya terimakasih pernah membantu saya menjaga anak-anak saya, terimakasih juga sudah beberapa kali menjadi pemicu bertengkarnya saya dengan suami yang sangat saya cintai.

Sebelum saya masuk ke pertanyaan dan klarifikasi, saya ingin menyampaikan beberapa uneg-uneg. Sebenarnya sudah sejak lama saya kecewa atas sikap mama, ketika:
1.      Mama menjual printer saya sewaktu di Bali tanpa seizin saya. Memang kondisi printer itu sedang rusak, tapi saat itu saya berharap masih bisa diperbaiki dan saya turunkan ke Zenia. 3 tahun saya menabung untuk bisa membeli printer seharga 800ribu itu. Dan Mama dengan mudahnya menjual printer saya di abang2 loakan seharga 5ribu.
2.      Mama menjual cincin pernikahan Amri tanpa sepengetahuan saya. Cincin itu sepasang. Punya saya masih ada, punya Amri entah kemana. Tiba-tiba Mama ngasih saya kalung yang ternyata itu dibeli setelah menjual cincin punya Amri. Beberapa bulan berikutnya, Mama bilang ke Amri, “Itu kan si Reqgi cincin sama kalungnya jarang dipakai, udah jual aja, uangnya kasih ke Mama.”
3.      Mama fitnah saya di depan teman Amri yang saat itu sedang silaturahim ke rumah Jelutung. Waktu Aqila jatuh dan nangis, Mama bilang ke mereka, “Ini si Reqgi anaknya jatuh malah gak tahu kemana perginya.” Padahal jelas sekali waktu itu Mama lagi nyuruh saya beli garam di warung depan.
4.      Sewaktu di Jelutung juga, Mama cuci lagi pakaian yang sudah mau saya jemur, sambil ngomong ke Amri, “Itu si Reqgi nyucinya gak bersih, gak dikucek.” Saya dengar obrolan itu. Sepertinya senang sekali kalau saya terlihat buruk di depan suami.
5.      Sewaktu di Cilegon, saat ada dokter periksa saya, Mama malah tidur2an di kasur, mengangkat kaki, sambil telpon dan tertawa2. Saya malu sama dokternya. Saya berharap mertua saya bisa berlaku santun. Saya juga kaget sewaktu Mama baru kembali ke Cilegon hampir pukul 12 malam setelah jalan bareng bapak2 yang bukan muhrimnya.
6.      Sewaktu di rumah Depok, Mama bilang ke Amri kalau bandeng masakan saya belum matang, padahal jelas-jelas bandeng itu hampir gosong. Kalau memang gak suka makan ikan, saya rasa gak perlu bilang masakan saya mentah.
7.      Setelah saya dan Amri beli rumah di Depok, setiap main ke Kodam, entah maksudnya bercanda atau apa, Mama selalu bilang “Kalau bukan karena Mama, Amri pasti gak bisa beli rumah,” pernah juga bilang “Kalau Amri gak beli rumah, mungkin hidup kita gak akan susah begini,” Seolah2 Amri adalah biang dari semua kesulitan Mama. Kalimat itu sering sekali di ulang, kadang dengan versi yang berbeda, meski maknanya sama. Hingga beberapa kali saya dengar Mama menyuruh Amri untuk menjual rumah kami dan menyerahkan uang hasil penjualan rumah ke Mama.
8.      Mama bilang ke keluarga/kerabat/saudara kalau Amri beli rumah tunai pakai semua uang warisan papa dan Eyang, sehingga mereka berpikir negatif ke Amri, seolah Amri makan semua harta itu, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Saya punya datanya berupa rekening koran yang menunjukkan transaksi antara Mama dan Amri.
9.      Mama selalu menganggap saya suudzon terhadap mama, padahal faktanya apa yang terjadi adalah sebaliknya. Mama yang selalu suudzon terhadap saya. Mama menuduh saya mengendalikan Amri, menuduh Amri selalu nurut sama istri, menyangka saya jahat sama anak-anak saya, menuduh saya yang melarang Amri menjual rumah, dan berbagai prasangka buruk lain.
10.  Selama ini walaupun saya hidup sangat sederhana bersama Amri, bahkan saya sampai lapar, tidak pernah meminta yang dasar2 ke Amri, saya ikhlas kebutuhan rumah tangga (pampers, susu anak2, makanan) saya tanggung dengan gaji saya, saya tidak pernah mempersoalkan itu. Kami tidak pernah bertengkar perkara perut lapar atau tidak membeli baju lebaran atau hal lain, tetapi kami selalu bertengkar setiap Mama mengadu tentang saya ke Amri, selalu complain ke Amri tentang keberadaan saya. Dan Amri sendiri yang menceritakan perihal itu. Maaf, saya tidak bisa mentoleransi kondisi pernikahan dengan adu domba dari faktor luar.

Dari 10 hal itu mungkin terlihat kalau saya tipe orang pendendam. Iya, saya memang sulit sekali memaafkan orang yang mengecewakan hati saya, terlebih lagi orang itu tidak sedikitpun menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu keliru.

Saya punya 5 pertanyaan ke Mama:
1.      Kenapa Mama benci banget sama saya sampai tega melakukan 10 hal di atas?
2.      Kenapa Mama tega menfitnah Amri dengan bilang ke saudara2/kerabat kalau Amri pakai semua uang warisan untuk beli rumah? Padahal faktanya itu rumah kami cicil dengan keringat kami sendiri.
3.      Kemana habisnya uang sebanyak itu? Kenapa Mama gak jujur aja kalau uang itu Mama habiskan untuk senang2 sama si Noval (pacar Mama itu), pergi ke Makasar, ke Sukabumi, dll? Kenapa Mama gak bagi rata uang warisan papa? Kenapa dulu Mama ngelarang Amri untuk ngejelasin ke adik2nya soal hukum warisan? Saya tidak sakit hati soal hak Amri atas warisan itu yang tidak terpenuhi, toh bukan saya yang dosa.
4.      Kenapa Mama tega secara nggak langsung ngadu domba anak2nya sendiri? Mungkin ini yang membuat Ai pernah bilang “Lagian lo Mri ngapain beli rumah, bukannya dibuat beli mobil aja!” Karena adik2 Amri dan saudara2 lain taunya Amri beli rumah itu tunai pakai uang warisan papa. Padahal itu fitnah.
5.      Kenapa Mama tega ngadu domba saya sama Ai, sampai Ai ngatain saya “berak”?
6.      Kenapa Mama tega nuduh saya mengendalikan Amri? Saya tidak pernah berbuat seperti itu. Justru saya tidak pernah menuntut yang aneh-aneh dari Amri selain perannya sebagai Ayah yang baik.

Yang harus saya klarifikasi:
3.      Saya gak masalah mama minta uang sama Amri. Saya sudah tahu resikonya menikah sama anak yatim yang jadi tulang punggung keluarga, yang punya adik banyak, yang punya mama janda bergaya hidup mewah. Tapi maaf, kami Cuma sanggup ngasih per bulannya 500-700ribu.
4.      Saya sudah berusaha bertahan dengan uang segitu per bulannya. Saya coba cari kerja Cuma 2 hari seminggu, itu pun sambil bawa anak, yang penghasilannya Alhamdulillah cukup untuk nyambung hidup sehari2. Itupun kadang Mama masih mempengaruhi Amri untuk melarang saya kerja. Kalau saya tidak kerja, uang tidak jatuh dari langit. Dan kalau memang saya bahagia dengan pernikahan ini, berat badan saya tidak akan turun sampai 8 kg. Dulu berat saya 49 kg, sekarang 41 kg.

6.      Saya tahu kalau saya bukan menantu seperti yang mama harapkan. Mama juga bukan mertua seperti yang saya harapkan. Saya sudah cukup banyak toleransi selama 4 tahun ini. Saya hargai mama pernah bantu saya menjaga anak2, tapi semenjak Mama adu domba saya sama Ai, adu domba saya dengan suami saya sendiri, saya sudah tidak tahan lagi. Selama Amri masih menjadi suami saya, maka Mama akan tetap jadi mertua saya. Itulah kenapa saya dan Amri mempertimbangkan untuk berpisah. Biar kita sama2 enak, sama2 bahagia. Saya jadi gak tertekan dengan pernikahan ini dan Amri pun tetap bisa berbakti sama Mama.

Tangerang, 16 September 2017

Salam,
Reqgi

Jumat, 07 April 2017

(mungkin) Saya Butuh Transquilizer

(mungkin) Saya Butuh Transquilizer
Reqgi First Trasia, dr.

Siapapun yang membaca posting ini, saya berharap kalian akan membacanya hingga akhir, agar tak salah paham.

Ya, saya memang sudah tidak waras, alias edan. Tes MMPI yang saya lakukan 3 hari lalu membuat saya dag-dig-dug, apa benar akan keluar hasil yang mengerikan bagi saya dan tanpa kompromi saya benar-benar membutuhkan obat penenang itu?

Sudah hampir setahun ini saya seolah menjadi orang lain, saya merasa aneh dengan diri saya. Saya bicara kasar, menulis hal kasar, mengasingkan diri, menangis, marah, bermuka masam, dan sebagainya. Meski suami saya selalu sabar, membawa suasana ceria, tertawa, tapi entah mengapa saya tidak berrespon positif.

Saya memang belum matur, terkadang masih ber-attitude negatif, sangat tidak cerdas dalam mengelola emosi. Terlebih ketika berhadapan dengan seseorang yang saya ingat betul dia pernah mencuci kembali pakaian yang sudah saya jemur, menjual printer saya di loakan seharga 5 ribu rupiah, diam-diam menjual cincin pernikahan saya, menyuruh saya menjual rumah, menjelek-jelekkan saya di hadapan suami dengan berkata bahwa masakan saya masih mentah, padahal jelas sekali ikan bandeng itu hampir gosong. Dan saya masih harus menghormatinya dengan cara yang patut.

Saya mendadak merasa tidak cocok dengan semua orang. Saya sering terbangun di malam hari, menangis, tak bisa tidur, kehilangan rasa percaya diri, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, merasa tidak punya harga diri, pesimis, dan tidak nafsu makan terutama dalam 4 bulan terakhir. Ya, saya bukanlah saya yang dulu, yang begitu bersemangat menjalani hari-hari, bagun pagi dengan ceria, menikmati hidup saya. Apa karena saya tak punya hidup, maka tak ada hidup yang bisa saya nikmati?

Ketiadaan supporter dalam hidup membuat saya merasa tak beguna lagi. Sebenarnya ada, tetapi saya menganggapnya tak ada. Saya mendadak selalu melihat sisi negatif dari semua makhluk hidup yang ada di dunia ini. Ibu yang begitu baik, super baik, amat sangat menyayangi saya, mendadak saya menganggap beliau adalah pengganggu. Meski hanya dalam hati, saya tidak pernah lupa ketika beliau meminta kembali semua uang yang sudah ia keluarkan untuk biaya kuliah dan resepsi pernikahan saya. Saya tidak pernah lupa ketika saya meminta martabak manis, ibu berkata,”kenapa sih minta martabak melulu. Ibu kan tidak punya uang. Emang kamu bakal mati kalo nggak makan martabak?” Saya selalu dibayangi oleh dua adegan itu, padahal jutaan hari membahagiakan pernah saya lewati bersama Ibu.

Saya mendadak menganggap Ayah adalah penjegal, ketika Ayah sok meramalkan bahwa masa depan saya tidak akan secemerlang bidan di Tangerang yang bisa membuka klinik yang sangat besar itu, padahal Ayah adalah jembatan bagi saya dan adik-adik saya hingga sampai pada titik ini. Dalam hati sungguh saya menjerit melihat Ayah yang menjalankan 3 aplikasi transpotrasi online sekaligus (Gojek, Grab, dan Uber) untuk bisa menghidupi Zenia di Mataram dan Kaisar di Gontor dengan kondisi Ayah yang mengidap PJK (Penyakit Jantung Koroner). Saya menghindari betul untuk menginap di Tangerang, saya tidak tega melihat Ayah sesak napas, nyeri dada, keringat dingin berkucuran di tubuhnya saat sakit jantungnya kumat. Dan saya, anak pertama yang sudah dijadikannya seorang dokter ini tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam di rumah, menggunakan seragam khas ibu rumah tangga. Alih-alih membantu perekonomian keluarga, saya justru jadi orang tak berguna dan terdampar di Depok.

Saya mendadak menganggap suami saya adalah penghalang, ketika saya merasa dikecewakan dengan hal-hal kecil seperti membersihkan kamar mandi, bangun di malam hari, kecerobohannya dalam banyak hal, pengetahuannya yang saya anggap dangkal, padahal sejatinya dia adalah malaikat bagi saya. Dia adalah teladan terbaik. Darinya saya belajar untuk “Ya elah gitu doang, santai aja”. Ratusan hari dipenuhi tawa oleh tingkah suami saya yang super humoris itu.

Memori kemudian melayang ke kejadian 7 bulan lalu. Ah, saya bersyukur dia masih hidup, ketika banyak orang di rumah sakit meragukan apa dia masih hidup atau sudah berpulang dengan kondisi wajah yang hancur dan tubuh yang bersimbah darah. Ya, saya menyayanginya, sangat mencintainya. Ketika dia selalu peracaya diri mengatakan bahwa dialah makhluk ter-ganteng di galaksi Bima Sakti ini, saya pun sepakat. Dia nomor 2 terganteng setelah Zayd.

Lalu soal Aqila dan Zayd. Betapa mengerikannya kondisi dimana mereka harus dibesarkan oleh seorang ibu seperti saya. Seorang ibu yang depresi, sering berteriak kesal, tiba-tiba menangis di sudut kamar. Kasihan betul mereka. Sosok aktif dan ceria seperti mereka membutuhkan Bunda yang kreatif dan penuh semangat.

Semua itu ditutup dengan Aqila yang begitu cerdas.
“Bunda sedih ya? Bunda marah ya? Iya?”
Saya hanya menangis.
“Bunda mau obat? Iya?”
Saya masih menangis.
Aqila menghampiri saya dengan membawa Al-Quran. “Ini obat, Bunda.” Ujarnya sambil menyerahkan kitabullah itu pada saya.

Sejak itu saya sadar. Saya tidak butuh Transquilizer. Saya butuh iman. Saya butuh Allah.

Depok, 8 April 2017
Reqgi First Trasia, dr.


Minggu, 02 April 2017

Novel Pijar



Bismillah, akan segera rampung novel kedua saya : Pijar
Meski dalam prosesnya, penulisan novel ini begitu drama, wkwk.. sejak mulai 'menarik diri' dari kawan2 demi mencicil lembaran2 cerita, sampai softcopy 100 halaman dihilangkan oleh seseorang yg meminjam laptop saya, dan tak ada sekalipun kata "maaf" terucap karena telah menghilangkan draft novel ini.. haha.. hingga saya pun harus menulis ulang novel ditemani oleh tangisan dan teriakan Aqila dan Zayd..
Tak banyak harapan saya setiap menulis novel, tak muluk juga berkeinginan menjadi penulis best seller.. bahagia ketika ada satu dua orang yg membaca, itu sudah cukup.. :)
Mohon doanya agar novel kedua ini bisa menjadi bacaan yg tidak sekadar menghibur, tapi bisa memberi manfaat..

Salam,
Reqgi First Trasia, dr.

Rabu, 15 Maret 2017

Agustus 2016 - Maret 2017

Sudah lebih dari setengah tahun aku tak mengunjungi blog ini.
Apa kabar diriku? Banyak sekali yang terjadi, sampai aku bahkan tak sempat menuliskannya.

Agustus 2016
1.      Kaisar diterima di Gontor. Semua keluarga bangga dan bahagia.
2.      Aku diomelin sama Sp.OG karena PJB (perkiraan berat janin)ku rendah banget.
3.      Ayah sakit jantung, STEMI Anterior, awamnya disebut penyakit jantung koroner.
4.      Mobil ayah satu-satunya dijual untuk biaya Kaisar masuk Gontor, biaya kuliah Zenia, bikin pagar di Batu Nunggul, dan untuk berobat ayah tentunya.
5.      Aku maju presentasi kasus internsip.
6.      Aku masih jaga IGD meski hamil trimester ketiga.
7.      Aku senang Aqila sudah hafal 10 Surah pendek di AlQuran.
8.      Amri ke Jambi, laptopnya hampir hilang 2 kali. Ah, sudahlah.
9.      Hape Amri hampir hilang, ketinggalan di Toko Beras.
10.  Pasca jaga IGD, ketubanku pecah dini. Amri kecelakaan. Zayd lahir. Aku cuti internsip 1 bulan.

September 2016
1.      Aku mulai internsip lagi. Alhamdulillah semua ujian terlewati dengan baik.
2.      Aqila dan Amri berulang tahun.
3.      Zayd aqiqah, juga imunisasi untuk pertama kalinya.

Oktober 2016
1.      Acara syukuran kantor baru Badr Interactive.

November 2016
1.      Internsip kelar!
2.      Aku silaturahim ke rumah kak Arasy.
3.      Draft novel dan semua file di laptop dihilangkan Ai.
4.      Pindahan ke Depok.

Desember 2016
1.      Mulai nulis artikel doctormums lagi.
2.      Novel kedua (Pijar) kelar.
3.      Mulai jaga-jaga klinik.
4.      Jadi ibu rumah tangga, kerennya sih full time mother.

Januari, Februari, Maret 2017 masih sedang ditulis apa-apa saja kejadian yang kami alami.

Depok, 15 Maret 2017

Reqgi First Trasia, dr. 

Rabu, 27 Juli 2016

Peran Kwartet

Peran Kwartet
Reqgi First Trasia, dr.

Sepanjang bulan Juli ini aku ingin bercerita mengenai 4 peran yang aku jalankan sekaligus, yaitu sebagai ibu dari Aqila, istri dari Amri, anak dari kedua orang tuaku, dan sebagai dokter umum. Rumit.

Alhamdulillah aku bisa melewati Ramadhan dengan baik (menurutku) tanpa bolong puasa satu hari pun meski dalam kondisi hamil dan harus jaga UGD.
Alhamdulillah aku bisa berkumpul bersama keluarga saat lebaran, meski tidak ada budget untuk baju lebaran. Sepatu baru yang proper digunakan untuk jaga UGD aku rasa sudah lebih dari cukup.

Selama bulan Juli ini sepertinya aku banyak berbuat kesalahan terhadap rekan sejawat dokter. Dari mulai kesalah pahaman soal tukar/ganti jadwal jaga dengan Ricco, soal lembar pemeriksaan fisik yang belum aku lengkapi hingga ditegur Irin, soal cuti mendadak hingga aku ditegur Wulan, sampai hal-hal kecil lain yang membuat aku diinterogasi satu grup kecil. Mereka tidak akan pernah memahami posisiku. Yang mereka tahu hanyalah kami disini mempunyai kewajiban yang sama sebagai dokter umum, mereka ingin aku professional, tidak peduli statusku sebagai istri yang sedang mengandung anak kedua atau sebagai ibu yang harus mengurus Aqila. Entahlah, mungkin karena mereka belum merasakan beratnya hidup berrumahtangga atau ada yang sudah merasakan tapi berada dalam situasi yang berbeda.

Mereka tidak akan pernah peduli bahwa aku harus berhemat gila-gilaan agar gajiku cukup untuk membayar arisan, membayar tiket pesawat Zenia pulang-pergi Jakarta-Mataram, membantu ibu beberapa uang untuk Kaisar masuk ke Gontor, dan sebagainya. Ditambah lagi BHD dan uang jaga yang tak kunjung turun, serta hampir dipastikan akan terlambat, bahkan sangat terlambat.

Di akhir masa cuti 2 minggu selama bulan Juli ini, Aqila sakit. Baru saja pada hari Jumat (22 Juli) beratnya 13 kg, mendadak turun drastic menjadi 12 kg pada hari Minggu (24 Juli) karena vomitus. Aku sedih, stress, seolah cuti 2 minggu yang menyenangkan itu tidak pernah ada.

Ya, aku sempat cuti karena harus menjaga Aqila di Depok. Tidak genap 2 hari aku menitipkannya di rumah mertua di Kodam karena masa cutiku telah usai. Untung saja ibu segera kembali dari Gontor, aku sangat khawatir Aqila tinggal di Kodam sebab tidak terurus dengan baik.

Selama ikut suami di Depok, aku dan Aqila berkeliling silaturahim ke rumah ibu-ibu peri Badr Interactive. Yang pertama kami kunjungi adalah rumah Ahza, anak dari mba Dyfi. Di sana Aqila senang bermain mobil dorong. Yang kedua ingin dikunjungi sebenarnya rumah mba Dewi, tapi sayang Faris sedang sakit, sehingga rencana kunjungan pun dibatalkan. Akhirnya kami mengunjungi Yumna, anak dari mba Nur. Ini sungguh berbeda. Mba Nur sama sekali berrencana tidak akan menyekolahkan Yumna di sekolah formal, hanya sekolah Kutab seperti metode Rasul. Bahkan Yumna juga tidak pernah mendapatkan imunisasi sekalipun. Yang terakhir adalah Azima, anak dari mba Iffah. Aqila senang sekali bermain di perpustakaan milik kakek Azima. Aku juga sangat terinspirasi oleh mba Ifah yang akan melanjutkan studi S2 di UI. Aku ingin sekali lanjut PPDS, hanya saja terkendala waktu dan biaya.

Selama di Depok, pengeluaran banyak sekali. THR ludes.

Hari pertama mulai kembali ke RSUD, sorenya langsung jaga UGD. Awalnya semua sehat-sehat saja, tetapi saat malam hari aku terbangun karena otot di area betis seperti tertarik kuat hingga aku ingin menangis. Sudah 2 hari ini nyerinya tak kunjung hilang sampai aku harus berjalan seperti ibu hamil yang sedang pincang.

Cilegon, 27 July 2016
Reqgi First Trasia, dr.

Rabu, 08 Juni 2016

Kehamilan Kedua

Kehamilan Kedua
Reqgi First Trasia, dr.

Bulan Mei aku tak sempat menulis blog sama sekali. Sudah berusaha meluangkan waktu, tetapi selalu saja ada aral melintang. Baru sekarang aku sempat menulis beberapa kata. Ini seputar kehamilan kedua dan beraneka baper yang aku rasakan selama sebulan.

Diawali oleh rasa kesal pada mertua yang tingkah lakunya ‘ajaib’ karena punya latar belakang gangguan kepribadian. Bulan lalu ia (saya malas menggunakan kata ‘beliau’) meminta aku dan suami untuk menjual cincin pernikahan kami, lalu menyerahkan hasil penjualan cincin semua padanya, tapi kami menolaknya, hingga berakhir pada diam-diam ia menjual cincin suamiku tanpa persetujuanku. Edan.

Bulan ini ia menyuruh kami menjual rumah yang dengan susah payah kami cicil, lalu menyerahkan hasil penjualan rumah kami semua padanya. Gila. Kami mati-matian berhemat agar bisa tenang punya investasi rumah di masa depan, ia dengan seenaknya menyuruh kami menjual rumah itu. Sinting. Tabiat boros yang tak pernah berubah itu masih saja dipeliharanya. Menyusahkan kami.

Aku sama sekali tak pernah melarang suami untuk memberikan uang bulanan padanya, meski selama hampir Sembilan bulan ini, suamiku terhitung tak memberikanku nafkah yang layak karena harus menghidupi pihak keluarganya yang super hedonis. Sembilan bulan ini (terhitung dari Agustus 2015) aku hidup dari uangku sendiri, dari gajiku, dan dari upah keliling jaga klinik.

Karena keuangan kami yang semakin kacau akibat mertua yang rese’, target untuk mendaftar haji tahun ini sepertinya hanya mimpi. Aku benci.

Bagaimana suamiku menyikapi semua ini? Dia hanya tenang-tenang saja. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kelakuan mamanya, ia tetaplah mamanya yang mengandung dan melahirkannya, meski tak pernah mengasuhnya. Karena suami sejak kecil sudah dititipkan pada neneknya. Bagi suami, ia tetaplah mamanya yang mungkin akan mati lebih dulu daripada aku, sehingga lebih dulu harus dibahagiakan daripada aku istrinya. Tak jarang, suami justru meminta sebagian gajiku ditransfer untuk mama dan adik-adiknya. Marah? Tentu saja aku sangat marah. Suami selalu saja berjanji untuk mengembalikan gajiku yang dipinjamnya, tetapi apa buktinya? Hingga saat ini tak ada pengembalian itu sepeserpun.

Mungkin kalian heran mengapa tutur bahasaku bisa sekasar ini saat membahas mertuaku? Andai saja kalian tahu kelakukannya dengan mata kepala kalian sendiri, kalian tentu akan paham bahwa sebagai manusia biasa, bukan Nabi atau Malaikat, tutur kataku ini kurang sadis.

Problem lain. Suami menyuruhku untuk cuti internsip dengan alasan aku sedang hamil dan ia ingin kehamilanku yang kedua ini sehat sambil mengasuh Aqila. Suami berharap aku melanjutkan internsip tahun depan. Yang benar saja. Ketika rekan sejawat dokter seumuranku sudah melesat dengan berbagai pencapaian, statusku masih sebagai dokter internsip? Itu mimpi buruk bagiku, bagi masa depanku.

Aku juga bodoh, kok bisa-bisanya hamil lagi? Padahal sudah menggunakan 2 metode KB bersamaan, tetap saja hamil. Aku heran, di luar sana banyak orang yang susah payah ingin punya anak, tetapi tak kunjung mendapatkan keturunan, sementara aku yang susah payah ber-KB, malah hamil lagi. Aku malu. Anak masih kecil, eh sudah hamil lagi. Dodol banget ya.

Awalnya rasa penolakan dalam hati begitu kuat ketika tahu aku hamil lagi. Bayangkan, anak satu saja hidup kami masih pas-pasan, bagaiaman kalau anak dua? Siapa yang akan membantuku mengasuh dua anak dengan tekanan rumah tangga yang seperti ini. Dengan suami yang tak memberiku ruang untuk melejit dengan berbagai prestasi, dengan mertua yang menekan kami dari segi finansial.

Sejak dulu sebenarnya aku ingin sekali menanamkan pada keyakinanku bahwa memiliki anak bukanlah beban, bukanlah derita bagi seorang perempuan, tetapi fakta berbicara lain. Anak tidak akan bisa ditinggal sesering agendaku saat menjadi mahasiswa dulu. Aku pun punya tanggung jawab ganda dalam hal ini. Sering aku berharap agar ibu dapat membantuku meringankan beban ini, tapi usia ibu sepertinya tidak memungkinkan, ditambah lagi kehidupan ibu yang juga pas-pasan dan harus mengurus adik bungsuku yang demikian susah diatur.

Tidak ada yang gratis di dunia ini, kawan. Betapa tidak tahu dirinya aku ketika begitu saja menitipkan Aqila di rumah ibu tanpa memberinya bekal apapun. Sebenarnya ingin sekali memberi ibu uang atau sekadar untuk memenuhi kebutuhan pangan di rumah ibu, tapi kondisi keuanganku juga kembang kempis, pun harus membayar transport pulang-pergi Tangerang-Cilegon yang tidak murah.

Aku selalu ingin marah dan menangis karena membenci keadaaan ini, tapi aku sadar banyak orang di luar sana yang justru ingin berada di posisiku. Ingin menjadi dokter, ingin menjadi istri, ingin menjadi ibu. Ah, mungkin aku saja yang selalu kurang pandai bersyukur.

Berbulan-bulan keinginan untuk lanjut S2 menggantung di langit-langit kos, tanpa ada satupun langkah kongkrit yang aku lakukan. Dungu kau, Reqgi! Hidupmu hanya untuk anakmu, suamimu, orangtuamu, adik-adikmu, dan pasien-pasienmu. Mana waktu untuk dirimu sendiri? Mana? Mimpi saja kau hebat, cita-cita saja kau keren, tapi itu semua hanya khayalan kan?

Cilegon, 9 Juni 2016
Reqgi First Trasia, dr.