welcome to the diary....

bismillah...

Jumat, 24 Juni 2011

Equilibrium

Equilibrium, sebuah catatan kecil sebagai pembelaan (defense mechanism) atas keluhan saya selama ini…



Ibu bilang, hidup ini harus seimbang. Bagaimana menyeimbangkannya itu tergantung aku menangkap makna ‘seimbang’ dan memasukkan aspek2 apa saja yang harus aku seimbangkan.
Dan kini aku rumuskan sendiri apa itu ‘seimbang’. Bagiku, hidup sebagai mahasiswi harus CAKAP
C = Cinta kasih
A = Agama
K = hubungan dengan Keluarga
A = Akademik dan Organisasi
P = Pekerjaan wanita seharusnya
Dalam hal ini bukan berarti aku menomorduakan Agama setelah kisah Cinta. Hanya saja ini sebuah urutan untuk tujuan estetika, agar bisa disusun menjadi kata CAKAP.

Oke, aku mulai dengan C, Cinta kasih terhadap sesama dan Allah


Berlanjut ke A, Agama.
Hmm… bicara soal ini memang rumit. Jujur aku masih bisa dibilang bodoh soal Agama. Agama yang aku jalani hanya sebatas memakai jilbab, sholat lima waktu, puasa, zakat, mengaji, dan ikut meramaikan organisasi Islam di FK. Sungguh sangat awam.
Bicara soal equilibrium, ada teman2 yang kisah cintanya lancar jaya, keluarganya harmonis, nilai akademiknya lumayan, dan bisa melakukan pekerjaan wanita, tapi agamanya masih dipertanyakan. Sholatnya “kapan2”. Puasanya kalau lagi “mood”. Zakatnya “ntar dulu”. Ngajinya kalo pas pengajian aja. Ikut organisasi Islam cuma kalau ada feedback yang mereka anggap positif untuk mereka.
Disini aku tidak bermaksud menghakimi atau bahkan “ujub” dengan mengatakan bahwa aku lebih baik dari mereka. Jika dari kalian ada yang merasa bahwa aku “ujub”, coba tengok lagi kalimat pertama dari catatan ini, bahwa ini hanyalah bentuk defense mechanism dari keluhanku selama ini.

Berlanjut ke K, Keluarga
Aku adalah mahasiswi yang bisa dibilang manja. Manja sama ayah, ibu, bahkan adik2ku. Tapi aku merasakan ini sebagai suatu keharusan, sebagai bentuk keharmonisan dalam keluarga.
Ada teman2ku yang kisah cintanya “wow”, tapi tanpa kita ketahui itu adalah bentuk pelampiasan karena kasih sayang yang mereka dapatkan di rumah sangat minim. Perhatian yang diberikan di rumah hanya sebatas “materi” yang berlimpah, atau mungkin perhatian yang sebatas “formalitas” karena orang tuanya terlalu asyik dengan kesibukan dunia mereka sendiri.
Namun, itu semua hanya wujud pembelaan diriku, agar aku tidak mengeluh. Atau agar saat aku mengeluh, aku jadi teringat akan note ini, bahwa hidup harus seimbang.

Lanjut ke A, Akademik
Aaaargh, ini yang sering membuat aku mengeluh. Nilai akademikku aku rasa kurang jika dibandingkan dengan teman2 yang lain. Sepanjang aku kuliah di FK, baru 9 kali aku mendapat nilai A, sisanya B semua. Jauh berbeda dengan teman2ku yang pernah mendapat nilai A sebanyak 10 kali atau bahkan 11 kali.
Aku bingung harus belajar dengan cara bagaimana lagi agar aku bisa terus dapat A? segala cara sudah aku coba, dan bahkan aku sudah menemukan cara yang paling efektif untukku belajar. tapi aku sadar bahwa hidup ini harus seimbang. Mungkin Allah tidak menjatuhkan rejeki-ku hanya dalam bidang akademik, tapi disebar ke berbagai bidang yang kesemuanya rata, walaupun tidak menonjol. Dan mungkin pula sampai saat ini Allah masih merahasiakan kemana saja Dia menyebar rejeki-ku selama ini. Yang aku yakini adalah bahwa setiap manusia di dunia ini mendapat porsi rejeki yang sama, hanya dalam hal apa, kapan diturunkan, bagaimana cara turunnya, mengapa diturunkan, itu yang berbeda. Bisa saja mereka yang di awal banyak mendapat keberuntungan, di fase menjelang akhir hanya mendapatkan sisa-sisa keberuntungan saja. Atau ada yang berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Atau ada yang rejekinya diturunkan secara equilibrium, tidak menonjol di awal, tidak pula di akhir, tetapi rata dan seimbang!
Kedua orang tuaku selalu mengajarkan bahwa aku tidak boleh membohongi diriku sendiri. Begitulah, nilai-nilaiku selama di FK ini aku dapatkan dengan cara terhormat, bukan “Eh, nomer ini apa? Eh, bagi jawaban dong.” Bukan! Mungkin sebagian orang mengatakan “Siapa suruh terlalu idealis?” Bagiku ini bukan idealis, hanya berbuat apa yang seharusnya aku perbuat. Lagipula kedua orangtuaku tidak pernah menuntut untuk harus mendapat nilai A, mereka hanya ingin aku berjalan di jalur yang benar. Kasihan teman2ku yang berbuat “apa saja” untuk mendapat nilai A karena tuntutan orang tua. Kasihan teman2ku yang berjuang demi nilai A karena iming2 hape baru, laptop baru, I-pad, dan segala hal yang materealistis.
Ada teman2ku yang nilai akademiknya bagus, tapi hubungan dengan keluarganya kurang hangat. Karena mereka hanya sibuk belajar, mengurung diri dalam kamar dengan buku2 kedokteran yang tebal. Keluar kamar hanya sekadar “say hai” sama orang tua, minta uang saku, kemudian berangkat ke kampus. Bahkan ada yang tidak tahu kalau saudara kandungnya yang satu atap sedang demam atau apalah.
Ada lagi teman2ku yang nilai akademiknya bagus, tapi agamanya masih “ya you know-lah”. Saking sibuknya belajar dan berorganisasi, sampai lupa sudah berapa banyak waktu sholat yang mereka tinggalkan. Sudah berapa forum2 kajian Islam yang mereka lewatkan? Sudah berapa ibadah2 sunah yang mereka acuhkan? Padahal itu adalah kesempatan.
Ada beberapa teman yang nilai akademiknya bagus, tapi tidak pernah mengalami perkembangan normal masa muda (baca: jatuh cinta). Mereka terlalu obsesif untuk mengejar nilai A, sampai2 mereka bersikap kompulsif, kemana2 bawa buku, hanya berteman dengan orang2 yang mampu memberikan keuntungan akademis buat mereka, dan bahkan dianggap eksentrik oleh fakultas lain.
Yang membedakan aku dengan teman-teman lain mungkin salah satunya adalah besar pengeluaran orang tua mereka. Orang tua mereka mencetak seorang dokter dengan biaya yang besar, uang bulanan yang mereka terima masuk dalam hitungan juta-juta. Sebenarnya kedua orang tuaku akan memberikan BERAPAPUN yang aku minta, hanya saja aku tidak menginginkannya. Aku ingin buktikan pada mereka bahwa aku bisa survive. Kalau kita kalkulasikan. Rata2 teman2ku baik yang kos maupun tidak kos, mendapatkan 2juta perbulan dari orang tua mereka atau dari pihak lain, sudah termasuk bayar kos, buku, makan, dan kebutuhan kuliah lainnya. Kami menjalani pendidikan selama 5,5tahun = 66 bulan. 2juta x 66 bulan = 132juta + uang masuk (25juta) + uang semesteran (3juta x 11semester), totalnya 190juta. Bandingkan denganku, 900rb x 66bulan + uang masuk (25juta) + uang semesteran (3juta x 11 semester), totalnya 117 juta. Kedua orang tuaku hanya butuh 117 juta untuk mencetak seorang dokter. Selisih 73juta dengan orang tua mereka.

Terakhir adalah P, Pekerjaan wanita seharusnya
Ada beberapa teman yang nilai akademiknya bagus, tapi sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan kodrat wanita, karena mereka anggap hal itu sangat menyita waktu belajar mereka. Lebih baik mereka makan di luar (karena mereka punya banyak uang) daripada harus memasak sendiri, padahal kita tahu bahwa seorang Presiden Megawati pun bisa memasak. Setinggi2 pendidikan wanita, ia tetap harus kembali ke dapur, begitu yang pernah aku dengar dari para sesepuh, hehe. Dalam hal ini bukan merebus air, masak mie, atau menggoreng telur saja.
Ada juga teman yang selalu menaruh pakaian mereka ke tempat laundry. Karena jika mereka mencuci sendiri, otomatis waktu belajar mereka jadi berkurang. Belum lagi harus menunggu jemuran kering, sedihnya kalau lagi musim hujan. Huff… tak hanya sampai disitu, jemuran yang sudah kering, harus disetrika dan ditata rapi dalam lemari pakaian. Bagi mereka yang punya banyak uang, segala hal itu bisa mereka beli. Atau mungkin yang dirumahnya sudah ada pembantu, jadi hidup terasa ringan bagi mereka.
Hmm… C A K A P sudah aku bahas satu per satu. Namun, ini hanya catatan kecil atas wujud pembelaan diri dari berbagai kekuranganku. Ya, inilah wujud pembelaan!
Bagi yang tidak berkenan dan ingin memperdebatkan opini2ku, silahkan saja. Toh ini hanya sekadar opini, hanya sekadar defense mechanism… :P
Reqgi First Trasia
22 Juni 2011
Ditulis dalam kondisi labil, jadi mohon maaf jika ada yang tidak senang dengan tulisan ini. Ditulis dalam “denial phase” karena nggak terima dengan nilai muskulo!