welcome to the diary....

bismillah...

Minggu, 20 Maret 2011

Dongeng Hati




Dongeng Hati

Kelak, akan ku ceritakan pada anakku sebuah dongeng termanis di dunia ini… anakku, ini adalah kisah yang lebih hebat dari kisah Cinderella yang kau baca tadi di sekolah… Memang ada sedikit kemiripan, Pangeran dan Putri yang ku ceritakan ini sama-sama baru sekali bertemu… Cinderella pun hanya satu kali bertemu dengan Pangeran di sebuah pesta dansa… hingga suatu saat Pangeran datang untuk mengembalikan si pemilik sepatu kaca… Tapi di kisah yang akan kau dengar ini, Anakku, Pangeran tidak datang membawa sepatu kaca… ia lebih dari itu, ia menyeberangi lautan dan membawa cinta…

Kisah ini lebih dari kisah Joko Tarub dan 7 Bidadari… Joko Tarub seorang pengecut yang mencuri selendang Bidadari ketika sedang mandi… tapi Pangeran dalam kisah ini bukan seorang pengecut, Anakku… Pangeran ini dengan jelas mengisyaratkan bahwa ia hendak mencuri hati sang Putri… Ia akan datang, duduk, dan bicara sejujurnya pada sang Putri…

Kisah ini lebih menarik dari sekadar Romeo n Juliet… kau tau mengapa, Anakku? Ya, karena Romeo n Juliet hanya bisa mati bersama… sedangkan Pangeran dan Putri dalam kisah ini akan hidup bersama, bukan mati bersama…

Kisah ini lebih berkesan dibandingkan kisah Aladin yang mengajak Jasmine terbang dengan permadani buatan Jin dalam lampu ajaib… Pangeran dalam kisah ini mengusahakan dengan segenap kemampuannya, mengumpulkan bekal untuk berangkat menemui sang Putri, tanpa bantuan Jin atau sejenisnya… hal terpenting yang perlu kau tau, Anakku, Pangeran tak hanya mengajak Putri untuk terbang dengan permadani, tapi terbang dengan hal lain yang sampai saat ini masih dirahasiakan oleh Pangeran…

Kisah ini mungkin sedikit berkebalikan dengan dongeng Sleeping Beauty… dalam dongeng itu, Pangeran harus mencium Putri yang tertidur bertahun-tahun… tapi dalam kisah ini, justru Putri yang menjadi “Morning Alarm” untuk Pangeran, bukan dengan ciuman, tapi dengan doa dan harapan sang Putri atas diri Pangeran, agar ia dapat baik-baik dalam setiap langkahnya…

Kisah ini lebih dramatis dari dongeng Snow White… dalam dongeng itu, Snow White tersesat di hutan, menunggu kedatangan Pangeran sambil ditemani oleh 7 dwarf (kurcaci)… lalu dimana letak dramatis dari dongeng ini, Anakku? Tahukah kau, sayang? Ya, benar sekali… Putri yang kau dengar dalam dongeng ini jauh tersesat di seberang pulau, menunggu Pangeran datang tanpa ditemani 7 kurcaci… Putri diam dalam kesendiriannya, duduk manis, padahal ia tak pernah tahu apakah Pangeran akan benar-benar datang dan menyelamatkannya… Yang ia tahu dan ia yakini adalah kisah ini akan Happy-Ending… :)

Kisah ini lebih logis dari kisah Roro Jonggrang yang meminta mahar berupa 1000 candi dalam semalam, karena dalam kisah ini, Putri tidak menuntut apa-apa dari diri Pangeran kecuali satu, kesetiaan…

“Ibu, apa Pangeran dalam kisah ini lebih tampan dari Pangeran-Pangeran dalam dongeng?”

“Ketampanan itu suatu hal yang relatif, Anakku… Bersikaplah lebih bijak, bahwa banyak laki-laki tampan di dunia ini yang tak bisa setia, bahkan mungkin seorang yang mengaku memiliki ilmu agama selangit pun banyak juga yang tak puas hanya dengan satu istri… tapi Pangeran dalam kisah ini, tak ada wanita lain di hatinya selain sang Putri… ya, hanya sang Putri yang ia cintai… yakinkan hatimu, Anakku…”

“Tapi, Bu… bukankah kesetiaan itu bisa dibentuk? Sementara ketampanan itu tidak. Orang tampan bisa dibimbing untuk jadi setia, tapi orang setia? Apa bisa dibimbing untuk jadi tampan?”

“Kau benar, Anakku… tapi coba bayangkan, jika Ibu memberimu permen jahe dalam bungkus coklat? Kau akan kecewa, bukan? Karena kau tak suka pedas. Kau akan lebih memilih coklat dalam bungkus permen jahe kan?”

Anakku mengangguk.

“Begitulah, sayang. Bungkus permen bisa kita ganti-ganti, tetapi isinya harus tetap coklat. Seperti coklat manis yang selalu dirasakan sang Putri dalam tiap desah suara Pangeran. Begituuu manis hingga membuat sang Putri tak peduli lagi coklat itu dibungkus dengan apa, sekalipun dengan daun pisang.”

Sang Putri tahu bahwa Pangeran pasti bosan mendengar Putri bercerita tentang keluarga sang Putri, tentang Ayah, Ibu, dan adik-adik sang Putri… sama seperti kebosanan keluarga Putri mendengar ia selalu bercerita tentang Pangeran… tapi mereka semua tak pernah jengah memasang telinga untuk sang Putri. Itulah yang membuat Putri selalu bersyukur karena Allah telah membolehkan Putri untuk menikmati saat-saat indah bersama mereka.

Keluarga Putri dan Pangeran selalu ada di setiap Putri membuka mata di kala pagi, walaupun hanya sebatas foto-foto mungil yang tertempel di dinding istana sang Putri… ketika bangun pagi, sang Putri menyapa mereka satu per satu,
“Assalamu’alaikum, Ibuku… ibu yang selalu online saat aku ingin curhat…”
“Assalamu’alaikum, Ayahku… ayah yang bentuk kasih sayangnya terkadang menyakitkan…”
“Assalamu’alaikum, my sister… Sister yang selalu bercerita hal-hal sensitive padaku…”
“Assalamu’alaikum, my brother… Brother yang tak pernah kehabisan cerita menarik, unik, dan lucu…”
“Assalamu’alaikum, Pangeran… Semoga kau baik disana, aku tak akan pernah berhenti menunggumu sampai mentari dari pantai Sanur tak mau lagi mengintip di balik jendela kamarku… aku tak akan lelah jaga hati ini sekalipun dunia tak bermentari…”

Terimakasih kalian selalu ada di setiap aku membuka mata… terimakasih kalian tak pernah berhenti menyapaku setiap hari… terimakasih kalian tak pernah bosan mengisi hari-hariku yang semakin hari semakin indah dan berwarna dengan hadirnya Pemberi Coretan Baru…

Bagaimana, Anakku? Kau setuju dengan Ibu kan? Bahwa kisah ini lebih manis?
“Ya, Bu… aku setuju, dan aku sangat ingin bertemu dengan Putri dan Pangeran itu, walaupun hanya sekali, atau bahkan hanya dalam mimpi…”
“Tidurlah, sayang. Hari telah larut. Semoga kau bisa bertemu dengan Putri dan Pangeran itu dalam tidurmu…”

Reqgi First Trasia
Denpasar, 20 Maret 2011
Sambil mendengar teriakan Sobotta, “Woiii, jangan nulis aja! Baca gue dong!”